Jumat, 10 Mei 2013

10 Penghalang Keterkabulan Do’a



Seorang lelaki pernah mengadu kepada syekh Ibrahim bin Adham, “Mengapa kami sering berdo’a namun do’a-do’a kami tak kunjung terkabul.” Syekh yang zuhud itu menjawab,

1. “Karena kalian telah mengenal Allah SWT sebagai Tuhan kalian, tapi kalian tidak mentaati aturan-Nya.

2. Kalian telah memahami bahwa Rasul adalah (panutan hidup), tapi kalian enggan mengikuti jalan hidupnya.

3. Kalian tahu bahwa al Qur’an adalah pedoman hidup, tapi kalian tidak mengamalkan petunjuknya.

4. Kalian telah mengecap berbagai nikmat pemberian Allah SWT, tapi kalian jauh dari nilai kesyukuran.

5. Kalian merindukan surga, tapi kalian tak mau mengejarnya.

6. Kalian takut kepada neraka, tapi kalian tiada lari darinya.

7. Kalian tahu bahwa setan itu adalah musuh, tapi kalian tidak mau memeranginya dan bahkan kalian mengikuti ajakannya.

8. Kalian yakin bahwa kematian itu pasti (kedatangannya), tapi kalian tidak menyiapkan diri untuk menyambutnya.

9. Kalian telah banyak memakamkan jenazah, tapi kalian tidak mau mengambil pelajaran darinya.

10. Dan kalian mengabaikan aib diri sendiri, namun kalian sibuk mengumpulkan aib orang lain.”

Wallahu a’lam bishawab..

Makna Al-fatihah saat shalat

Kita smua sdh tahu bhw Surah Al-Fatihah terdiri dri 7 ayat, di turunkan di Makkah, disbt Al-Fatihah (Pembukaan) krn surah inilah di mulainya Al-Qur'an, jg dinamakan Ummul Kitab (induk KitaB), dan kita diwajibkan membacanya setiap kali shalat, Al-Fatihah jg di namakan As-Sab'ul Masani (7 yg ber-ulang2) krn ayatnya ada 7 dan di baca ber-ulang2.

Saat membaca surah Al-Fatihah pd wkt shalat, bnyk skali orang yg cara membacanya ter-gesa2 tanpa spasi, dan se-akan2 ingin cepat selesai shalatnya, padahal disaat kita selesai membaca satu ayat dari surah Al-Fatihah, Allah menjawab setiap ucapan kita, maka dari itu kita hrs berhenti setiap selesai membaca satu ayat.

Dlm Sebuah Hadits Qudsi Allah SWT berfirman : "Aku membagi shalat menjadi dua bagian, utk Aku dan utk hamba-Ku".

•Artinya: tiga ayat diatas Iyyaka Na'budu Wa iyyaka nasta'in adalah hak Allah, dan tiga ayat kebawahnya adalah urusan hamba-Nya.

»Ktika Kita mengucapkan "Alhamdulillahi Rabbil 'alamin". •Allah menjawab: "Hamba-Ku telah memuji-Ku".

»Ktika kita mengucapkan "Ar-Rahmanir-Rahim"...
•Allah menjawab: "Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku".

»Ktika kita mengucapkan "Maliki yaumiddin"...Allah menjawab :"Hamba-Ku memuja-Ku"

»Ktika kita mengucapkan “Iyyaka na’ budu wa iyyaka nasta’in”...
•Allah menjawab: “Inilah perjanjian antara Aku dan hamba-Ku”.

»Ktika kita mengucapkan “Ihdinash shiratal mustaqiim, Shiratalladzina an’amta alaihim ghairil maghdhubi alaihim waladdhooliin.”...

•Allah menjawab: “Inilah perjanjian antara Aku dan hamba-Ku.. Akan Ku penuhi yang ia minta.”
(H.R. Muslim dan At-Turmudzi)

Berhentilah sejenak setelah membaca setiap satu ayat... Rasakanlah jawaban indah dari Allah krn Allah sedang menjawab ucapanmu..

Selanjutnya ucapkanlah "Aamiin" dgn ucapan yang lembut, sebab malaikatpun sedang mengucapkan hal yg sama dgn kita.
Barang siapa yg ucapan “Aamiin-nya” bersamaan dgn para malaikat, maka Allah akan memberikan ampunan kepada-Nya.”

Sumber: Sucikan Hati Dari Penyakit Hati.

Selasa, 07 Mei 2013

Jika Waktu Ayah Bisa Dibeli

 
Ada seorang ayah setelah pulang dari kantor hari sudah larut malam, dengan perasaan sangat lelah dan kesal sekali dia masuk ke dalam rumah, dia menemukan anaknya yang baru berusia lima tahun duduk bersandar di atas kursi sedang menunggunya.

“Ayah, apakah saya boleh mengajukan satu pertanyaan?” tanya anak itu penuh harap.

“Tentu saja boleh, apa yang ingin kau tanyakan?” balas sang ayah.

“Mmm…..Berapa upah ayah bekerja setiap jamnya?”

“Wah, masalah seperti ini tidak perlu dipertanyakan. Mengapa tiba-tiba menanyakan hal ini?” Ayahnya menjawab dengan nada sedikit gusar.

“Ayah, saya hanya ingin mengetahui, berapa upah Ayah per jam? Tolong beritahu saya…”

Dengan nada suara yang agak gemetaran anak tersebut memohon dengan sangat.

“Baiklah! Kalau kamu merasa harus mengetahuinya, upah ayah setiap jamnya lima puluh ribu rupiah.”

“Uhh….” Anak kecil tersebut menundukkan kepala dan berpikir sejenak, kemudian melanjutkan berkata, “Ayah, bolehkah saya meminjam uang sebesar lima puluh ribu rupiah?”

Kesabaran ayah anak itu telah habis, dengan nada keras dia menegur, “Jika kamu menanyakan persoalan ini hanya ingin meminjam uang untuk membeli mainan atau benda lain yang sama sekali tidak ada gunanya itu, maka sebaiknya kamu sekarang segera kembali ke kamar! Coba pikirkan mengapa kamu hanya mementingkan diri sendiri. Ayah setiap hari bekerja lembur dengan susah payah untuk memberikan nafkah kepada kalian, tidak ada waktu yang berlebihan untuk permainan semacam ini!”

Akhirnya dengan tertunduk lesu anak tersebut masuk ke dalam kamar tidurnya dan menutup pintu kamar.

Setelah duduk di atas kursi, si Ayah memikirkan kembali pertanyaan anaknya, semakin dipikir semakin menjadi jengkel.

“Beraninya dia menanyakan hal tersebut hanya demi meminjam uang?” Dalam hati ayah tersebut terus berpikir.

Namun lewat satu jam kemudian, pada akhirnya si Ayah bisa menenangkan diri. Dia mulai berpikir, “Mungkin sikap saya terlalu keras terhadap anak itu, atau mungkin dia seharusnya menggunakan uang lima puluh ribu tersebut untuk membelikan barang yang benar-benar dia inginkan, agar tidak sering-sering lagi minta uang kepadaku.”

Karena itu sang ayah pergi ke kamar anaknya dan mengetuk pintu kamar sambil bertanya, “Anakku, apakah kamu sudah tidur?”

“Belum, Ayah. Saya masih terjaga……” sahut anak itu lirih.

“Ayah baru saja berpikir, mungkin ayah terlalu keras terhadapmu….” Ayah tersebut melanjutkan berkata, “Maafkan Ayah yang telah meluapkan kekesalan dalam hati! Ini Ayah berikan uang yang kau kehendaki……” kata si Ayah sambil menyodorkan uang itu pada anaknya.

Dengan tersenyum simpul anak tersebut duduk di atas ranjang sambil berteriak girang, “Terima kasih ayah!”. Anak itu lalu mengeluarkan uang kertas yang sudah lusuh serta uang receh dari bawah bantalnya.

Si Ayah yang melihat anaknya telah memiliki uang sebesar itu, dan masih juga meminta uang kepadanya, hampir membuat kejengkelannya meluap lagi.

Dengan hati-hati anak itu menghitung uangnya, “Seribu, sepuluh ribu, dua puluh lima ribu, empat puluh ribu…… lima puluh ribu……” gumamnya menghitung uang receh yang dia miliki. Ketika genap seratus ribu, dengan mata berbinar dia memandang ke ayahnya.

Baru saja ingin mengatakan sesuatu, si Ayah sudah tidak bisa menahan kejengkelannya, dengan nada gusar dia bertanya, “Kamu telah mempunyai uang sebanyak itu, mengapa masih juga meminta lagi?”

“Karena…uang saya…….tak mencukupi….tetapi…. tapi….. sekarang sudah mencukupi…..”

Dengan terbata-bata anak tersebut melanjutkan perkataannya, “Ayah, sekarang saya sudah mempunyai uang sebanyak seratus ribu, bolehkah saya membeli waktu Ayah selama dua jam? Karena besok saya sangat ingin sekali makan malam bersama ayah……”

Mata jernih anak tersebut berlinangan air mata, sedangkan di dalam hati sang ayah penuh dengan penyesalan……

Kebenaran Surat Ar-Rahman 19-20: Dua Laut yang Tidak Pernah Bercampur


 
Surat Ar-Rahman adalah surat yang “ajaib” menurut saya, karena di dalamnya Tuhan berulangkali menjelaskan “Maka, nikmat Tuhanmu mana lagi yang kamu dustakan?”.
“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.” (Q.S. Ar-Rahman:19-20)

Inilah foto tersebut, yang memperlihatkan aliran dua lautan yang tidak pernah bercampur, seolah-olah ada sekat atau dinding yang memisahkannya.

Subhanallah, Maha Besar Allah Yang Maha Agung. Ternyata air laut yang tidak bercampur itu benar-benar ada. Saya sudah sering membaca ayat tersebut, tapi masih belum tahu di mana gerangan air laut yang tidak pernah bercampur itu. Ayat lain yang menceritakan fenomena yang sama terdapat pada Surat Al-Furqan ayat 53 yang berbunyi:

“Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S. Al-Furqaan:53)

Dua lautan yang tidak bercampur itu terletak di Selat Gibraltar, selat yang memisahkan benua Afrika dan Eropa, tepatnya antara negera Maroko dan Spanyol

Dari hasil googling di internet, menemukan penjelasan ilmiah tentang laut tersebut. Berikut hasil kutipan saya saya dari berbagai sumber di internet:

Arus Selat Gibraltar memang sangat besar di bagian bawahnya. Hal ini dikarenakan perbedaan suhu, kadar garam, dan kerapatan air (density)nya. Air laut di Laut Tengah (Mediterania) memiliki kerapatan dan kadar garam yang lebih tinggi dari air laut yang ada di Samudera Atlantik. Menurut sifatnya, air akan bergerak dari kerapatan tinggi ke daerah dengan kerapatan air yang lebih rendah. Sehingga arus di selat Gibraltar bergerak ke barat, menuju Samudera Atlantik. Lalu apakah air ini akan bercampur dengan air di Samudera Atlantik?

TIDAK!. Lho?? Ternyata ketika air laut dari Laut Tengah menuju Samudera Atlantik, mereka tidak mencampur. Seakan ada sekat yang memisahkan kedua jenis air ini. Bahkan batas antara kedua air dari dua buah laut ini sangat jelas. Air laut dari Samudera Atlantik berwarna biru lebih cerah. Sedangkan air laut dari Laut Tengah berwarna lebih gelap. Inilah keajaiban alam. Tidak hanya itu yang aneh dari perilaku dari kedua air laut ini. Ternyarta, air laut dari laut Tengah yang tidak mau bercampur dengan air laut dari Samudera Atlantik ini menyusup dibawah air laut yang berasal dari Samudera Atlantik. Air dari Laut Tengah ini menyusup di bawah air dari Samudera Atlantik di bawah kedalaman 1000 meter dari permukaan Samudera Atlantik.

Al-Quran sudah menyebutkan fenomena ini 15 abad yang lalu, dan ilmu pengetahuan modern mengungkapkannya pada abad 20.

Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan? Maha benar Allah Yang Maha Agung.

Senin, 06 Mei 2013

Sepucuk Surat Dari Ayah

Renungan.. Sempatkan untuk membaca
 
Aku tuliskan surat ini atas nama rindu yang besarnya hanya Allah yang tahu. Sebelum kulanjutkan, bacalah surat ini, surat seorang ayah kepada seorang buah hatinya.

Nak, menjadi ayah itu indah dan mulia. Besar kecemasanku menanti kelahiranmu dulu belum hilang hingga saat ini. Kecemasan yang indah karena ia didasari sebuah cinta. Sebuah cinta yang telah terasakan bahkan ketika yang dicintai belum sekalipun kutemui.

Nak, menjadi ayah itu mulia. Bacalah sejarah Nabi-Nabi dan Rasul dan temukanlah betapa nasehat yang terbaik itu dicatat dari dialog seorang ayah dengan anak-anaknya.

Meskipun demikian, ketahuilah Nak, menjadi ayah itu berat dan sulit. Tapi kuakui, betapa sepanjang masa kehadiranmu di sisiku, aku seperti menemui keberadaanku, makna keberadaanmu, dan makna tugas kebapakanku terhadapmu. Sepanjang masa keberadaanmu adalah salah satu masa terindah dan paling aku banggakan di depan siapapun. Bahkan di hadapan Tuhan, ketika aku duduk berduaan berhadapan dengan-Nya, hingga saat usia senja ini.

Nak, saat pertama engkau hadir, kucium dan kupeluk engkau sebagai buah cintaku dan ibumu. Sebagai bukti, bahwa aku dan ibumu tak lagi terpisahkan oleh apapun jua.

Tapi seiring waktu, ketika engkau suatu kali telah mampu berkata:"TIDAK", timbul kesadaranku siapa engkau sesungguhnya. Engkau bukan milikku, atau milik ibumu Nak. Engkau lahir bukan karena cintaku dan cinta ibumu. Engkau adalah milik Tuhan. Tak ada hak kumenuntut pengabdian darimu. Karena pengabdianmu semata-mata seharusnya hanya untuk Tuhan.

Nak, sedih, pedih dan terhempaskan rasanya menyadari siapa sebenarnya aku dan siapa engkau. Dan dalam waktu panjang di malam-malam sepi, kusesali kesalahanku itu sepenuh -penuh air mata di hadapan Tuhan. Syukurlah, penyesalan itu mencerahkanku.

Sejak saat itu Nak, satu-satunya usahaku adalah mendekatkanmu kepada pemilikmu yang sebenarnya. Membuatmu senantiasa berusaha memenuhi keinginan pemilikmu. Melakukan segala sesuatu karena Nya, bukan karena kau dan ibumu. Tugasku bukan membuatmu di kagumi orang lain, tapi agar engkau di kagumi dan di cintai Allah.

Inilah usaha terberatku Nak, karena artinya aku harus lebih dulu memberi contoh kepadamu dekat dengan Tuhan. Keinginanku harus lebih dulu sesuai dengan keinginan Allah. Agar perjalananmu mendekati-Nya tak lagi terlalu sulit.

Kemudian, kitapun memulai perjalanan itu berdua, tak pernah engkau kuhindarkan dari kerikil tajam dan lumpur hitam. Aku cuma menggeng-gam jemarimu dan merapatkan jiwa kita satu sama lain. Agar dapat kau rasakan perjalanan ruhaniah yang sebenarnya.

Saat engkau mengeluh letih berjalan, kukuatkan engkau karena kita memang tak boleh berhenti. Perjalanan mengenal Allah tak kenal letih dan berhenti, Nak. Berhenti berarti mati, inilah kata-kata ku tiap kali memeluk dan menghapus air matamu, ketika engkau hampir putus asa.

Akhirnya Nak, kalau nanti, ketika semua manusia dikumpulkan di hadapan Tuhan, dan kudapati jarakku amat jauh dari-Nya, aku akan ikhlas. Karena seperti itulah aku di dunia. Tapi, kalau boleh aku berharap, aku ingin saat itu aku melihatmu dekat dengan Allah. Aku akan bangga Nak, karena itulah bukti bahwa semua titipan bisa kita kembalikan kepada pemiliknya. Dari ayah yang senantiasa merindukanmu

Jenazah Yang Begitu Wangi Dari Seorang Istri Sholehah



istri Yaqin masih sangat muda, sekitar 19 tahun. Sedangkan usia Yaqin waktu itu sekitar 23 tahun. Tetapi mereka sudah berkomitmen untuk menikah.

Istrinya Yaqin cantik, putih, murah senyum dan tutur katanya halus. Tetapi kecantikannya tertutup sangat rapi. Dia juga hafal Al-Qur’an di usia yang relatif sangat muda , Subhanallah…

Sejak awal menikah, ketika memasuki bulan kedelapan di usia pernikahan mereka, istrinya sering muntah-muntah dan pusing silih berganti… Awalnya mereka mengira “morning sickness” karena waktu itu istrinya hamil muda.

Akan tetapi, selama hamil bahkan setelah melahirkanpun istrinya masih sering pusing dan muntah-muntah. Ternyata itu akibat dari penyakit ginjal yang dideritanya.

Satu bulan terakhir ini, ternyata penyakit yang diderita istrinya semakin parah..

Yaqin bilang, kalau istrinya harus menjalani rawat inap akibat sakit yang dideritanya. Dia juga menyampaikan bahwa kondisi istrinya semakin kurus, bahkan berat badannya hanya 27 KG. Karena harus cuci darah setiap 2 hari sekali dengan biaya jutaan rupiah untuk sekali cuci darah.

Namun Yaqin tak peduli berapapun biayanya, yang terpenting istrinya bisa sembuh.

Pertengahan bulan Ramadhan, mereka masih di rumah sakit. Karena, selain penyakit ginjal, istrinya juga mengidap kolesterol. Setelah kolesterolnya diobati, Alhamdulillah sembuh. Namun, penyakit lain muncul yaitu jantung. Diobati lagi, sembuh… Ternyata ada masalah dengan paru-parunya. Diobati lagi, Alhamdulillah sembuh.

Suatu ketika , Istrinya sempat merasakan ada yang aneh dengan matanya. “Bi, ada apa dengan pandangan Ummi?? Ummi tidak dapat melihat dengan jelas.” Mereka memang saling memanggil dengan “Ummy” dan ” Abi” . sebagai panggilan mesra. “kenapa Mi ?” Yaqin agak panik “Semua terlihat kabur.” Dalam waktu yang hampir bersamaan, darah tinggi juga menghampiri dirinya… Subhanallah, sungguh dia sangat sabar walau banyak penyakit dideritanya…

Selang beberapa hari, Alhamdulillah istri Yaqin sudah membaik dan diperbolehkan pulang.

Memasuki akhir Ramadhan, tiba-tiba saja istrinya merasakan sakit yang luar biasa di bagian perutnya, sangat sakiiit. Sampai-sampai dia tidak kuat lagi untuk melangkah dan hanya tergeletak di paving depan rumahnya.

“Bi, tolong antarkan Ummi ke rumah sakit ya..” pintanya sambil memegang perutnya…

Yaqin mengeluh karena ada tugas kantor yang harus diserahkan esok harinya sesuai deadline. Akhirnya Yaqin mengalah. Tidak tega rasanya melihat penderitaan yang dialami istrinya selama ini.

Sampai di rumah sakit, ternyata dokter mengharuskan untuk rawat inap lagi. Tanpa pikir panjang Yaqin langsung mengiyakan permintaan dokter.

“Bi, Ummi ingin sekali baca Al-Qur’an, tapi penglihatan Ummi masih kabur. Ummi takut hafalan Ummi hilang.”

“Orang sakit itu berat penderitaannya Bi. Disamping menahan sakit, dia juga akan selalu digoda oleh syaitan. Syaitan akan berusaha sekuat tenaga agar orang yang sakit melupakan Allah. Makanya Ummi ingin sekali baca Al-Qur’an agar selalu ingat Allah.

Yaqin menginstal ayat-ayat Al-Qur’an ke dalam sebuah handphone. Dia terharu melihat istrinya senang dan bisa mengulang hafalannya lagi, bahkan sampai tertidur. Dan itu dilakukan setiap hari.

“Bi, tadi malam Ummi mimpi. Ummi duduk disebuah telaga, lalu ada yang memberi Ummi minum. Rasanya enaaak sekali, dan tak pernah Ummi rasakan minuman seenak itu. Sampai sekarangpun, nikmatnya minuman itu masih Ummi rasakan”

“Itu tandanya Ummi akan segera sembuh.” Yaqin menghibur dirinya sendiri, karena terus terang dia sangat takut kehilangan istri yang sangat dicintainya itu.

Yaqin mencoba menghibur istrinya. “Mi… Ummi mau tak belikan baju baru ya?? Mau tak belikan dua atau tiga?? Buat dipakai lebaran.”

“Nggak usah, Bi. Ummi nggak ikut lebaran kok” jawabnya singkat. Yaqin mengira istrinya marah karena sudah hampir lebaran kok baru nawarin baju sekarang.

“Mi, maaf. Bukannya Abi nggak mau belikan baju. Tapi Ummi tahu sendiri kan, dari kemarin-kemarin Abi sibuk merawat Ummi.”
“Ummi nggak marah kok, Bi. Cuma Ummi nggak ikut lebaran. Nggak apa-apa kok Bi.”

”Oh iya Mi, Abi beli obat untuk Ummi dulu ya…??” Setelah cukup lama dalam antrian yang lumayan panjang, tiba-tiba dia ingin menjenguk istrinya yang terbaring sendirian. Langsung dia menuju ruangan istrinya tanpa menghiraukan obat yang sudah dibelinya.

Tapi betapa terkejutnya dia ketika kembali . Banyak perawat dan dokter yang mengelilingi istrinya.

“Ada apa dengan istriku??.” tanyanya setengah membentak. “Ini pak, infusnya tidak bisa masuk meskipun sudah saya coba berkali-kali.” jawab perawat yang mengurusnya.

Akhirnya, tidak ada cara lain selain memasukkan infus lewat salah satu kakinya. Alat bantu pernafasanpun langsung dipasang di mulutnya.

Setelah perawat-perawat itu pergi, Yaqin melihat air mata mengalir dari mata istrinya yang terbaring lemah tak berdaya, tanpa terdengar satu patah katapun dari bibirnya.

“Bi, kalau Ummi meninggal, apa Abi akan mendoakan Ummi?” “Pasti Mi… Pasti Abi mendoakan yang terbaik untuk Ummi.” Hatinya seakan berkecamuk. “Doanya yang banyak ya Bi”, “Pasti Ummi” “Jaga dan rawat anak kita dengan baik.”

Tiba-tiba tubuh istrinya mulai lemah, semakin lama semakin lemah. Yaqin membisikkan sesuatu di telinganya, membimbing istrinya menyebut nama Allah. Lalu dia lihat kaki istrinya bergerak lemah, lalu berhenti. Lalu perut istrinya bergerak, lalu berhenti. Kemudian dadanya bergerak, lalu berhenti. Lehernya bergerak, lalu berhenti. Kemudian matanya…. Dia peluk tubuh istrinya, dia mencoba untuk tetap tegar. Tapi beberapa menit kemudian air matanya tak mampu ia bendung lagi.

Setelah itu, Yaqin langsung menyerahkan semua urusan jenazah istrinya ke perawat. Karena dia sibuk mengurus administrasi dan ambulan. Waktu itu dia hanya sendiri, kedua orang tuanya pulang karena sudah beberapa hari meninggalkan cucunya di rumah. Setelah semuanya selesai, dia kembali ke kamar menemui perawat yang mengurus jenazah istrinya.

“Pak, ini jenazah baik.” kata perawat itu. Dengan penasaran dia balik bertanya. “Dari mana ibu tahu???” “Tadi kami semua bingung siapa yang memakai minyak wangi di ruangan ini?? Setelah kami cari-cari ternyata bau wangi itu berasal dari jenazah istri bapak ini.” “Subhanalloh…”

Tahukah sahabatku,… Apa yang dialami oleh istri Yaqin saat itu? Tahukah sahabatku, dengan siapa ia berhadapan? Kejadian ini mengingatkan pada suatu hadits

“Sesungguhnya bila seorang yang beriman hendak meninggal dunia dan memasuki kehidupan akhirat, ia didatangi oleh segerombol malaikat dari langit. Wajah mereka putih bercahaya bak matahari. Mereka membawa kain kafan dan wewangian dari surga. Selanjutnya mereka akan duduk sejauh mata memandang dari orang tersebut. Pada saat itulah Malaikat Maut ‘alaihissalam menghampirinya dan duduk didekat kepalanya. Setibanya Malaikat Maut, ia segera berkata: “Wahai jiwa yang baik, bergegas keluarlah dari ragamu menuju kepada ampunan dan keridhaan Allah”. Segera ruh orang mukmin itu keluar dengan begitu mudah dengan mengalir bagaikan air yang mengalir dari mulut guci. Begitu ruhnya telah keluar, segera Malaikat maut menyambutnya. Dan bila ruhnya telah berada di tangan Malaikat Maut, para malaikat yang telah terlebih dahulu duduk sejauh mata memandang tidak membiarkanya sekejap pun berada di tangan Malaikat Maut. Para malaikat segera mengambil ruh orang mukmin itu dan membungkusnya dengan kain kafan dan wewangian yang telah mereka bawa dari surga. Dari wewangian ini akan tercium semerbak bau harum, bagaikan bau minyak misik yang paling harum yang belum pernah ada di dunia. Selanjutnya para malaikat akan membawa ruhnya itu naik ke langit. Tidaklah para malaikat itu melintasi segerombolan malaikat lainnya, melainkan mereka akan bertanya: “Ruh siapakah ini, begitu harum.” Malaikat pembawa ruh itupun menjawab: Ini adalah arwah Fulan bin Fulan (disebut dengan namanya yang terbaik yang dahulu semasa hidup di dunia ia pernah dipanggil dengannya).” (HR Imam Ahmad, dan Ibnu Majah).

“Sungguh sangat singkat kebersamaan kami di dunia ini , akan tetapi sangat banyak bekal yang dia bawa pulang. Biarlah dia bahagia di sana” Air matapun tak terasa mengalir deras dari pipi Yaqin.

Subhanallah…

Cinta ayah terhadap anak perempuannya

Alkisah, ada seorang anak tunggal, ia cerdas namun sangat manja yang tinggal hanya berdua degan ayahnya..
Suatu saat ketika menjelang UN SMA sang ayah berkata “nak, jika km menjadi yang nomor 1, hadiah apa yang kamu inginkan?”
Sang anak menjawab “aku mw mobil ayah, aku malu dengan teman2 ku, mereka membawa mobil yang bagus tapi aku hanya membawa sebuah motor”

Lantas ayahnya tersenyum dan menyanggupi permintaan sang anak, sang anakpun sangat bahagia.

Maka setelah itu ia belajar dengan sungguh2, dan ternyata nilainya menjadi yg tertinggi di kotanya. Ia pun bangga dan segera pulang untuk menagih janji ayahnya..

“ayah, ku telah memenuhi keinginanmu, apakah ku mendapatkan sebuah mobil?”

“ya nak, mobilmu ada di meja belajarmu..”
Sang anak segera menuju kamar dgn terheran heran, namun ketika dikamar ia hanya menemukan alquran di mejamnya dengan secarik kertas bertuliskan “inilah mobilmu, buka dan bacalah..”

Merasa dikhianati, tanpa pikir panjang ia membentak bentak ayahnya dan membanting alquran tersebut dan pergi dengan smw peralatan miliknya. lebih kurang 15 tahun kemudian saat sang anak telah menjadi seorang yg sangat mapan hidupnya tiba-tiba pulang karena terfikir terus tentang ayahnya yg sudah 15 tahun ia tinggalkan. Ketika sampai dirumah.. Ia heran rumah telah sepi.

Lantas ia mengetahui dari tetangga bahwa sang ayah telah wafat 1 setengah bulan yg lalu.. setelah mendengar cerita panjang lebar dari tetangganya ia pun masuk kerumah itu lalu melihat keadaan rumahnya yang cukup tidak keurus karena hanya ayahnya sendirian lah yang tinggal, dan ketika ia memasuki kamarnya ia melihat sebuah alquran yang dulu ia banting berada kmbali di meja tersebut. Sama seperti pertama, ia membaca tulisan yang menyuruh ia membuka alquran itu.

Setelah ia membuka halaman demi halaman, tiba-tiba ia terjatuh dan menangis penuh penyesalan, karena ia menemukan sebuah surat. “anakku, selamat kamu memang yang terbaik. Ayah bangga padamu.. Ayah telah membelikanmu mobil baru tapi sbgai kejutan, ambilah di rumah pamanmu, dan ayah sengaja menaruhnya dalam alquran karena janganlah km terbuai oleh dunia karena alquran adl hadiah terindah dr Allah..

saya gak bisa menyimpulkan apa makna yang terdapat dalam cerita tersebut, tapi saya yakin jika kalian semua bisa mengambil banyak hikmah dan pelajaran dari sebuah cerita yang cukup singkat ini....